Pergantian menteri / reshuffle 2011 Indonesia baru saja selesai. Ada wajah baru, ada juga yang berpindah posisi, tapi tampaknya semuanya kurang bertaji. Well, skip this politic session for a while…

Sepertinya Indonesia kekurangan para ahli. Tapi ternyata tidak sama sekali. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Kemana mereka? Sebagian pergi ke luar negeri untuk penghasilan yang lebih baik. Sisanya tetap tinggal di Indonesia namun “enggan” untuk mengabdi lebih jauh. Namun kedua-duanya memiliki alasan yang relatif sama.

Bagi yang berpetualang ke luar negeri, tentu mereka mengerti bahwa mereka dihargai secara layak dan profesional sesuai dengan keahlian mereka. Sedangkan yang “enggan” mengabdi, mereka juga tak ingin keahlian mereka tidak dihargai secara layak, terlebih lagi jika mereka memiliki kualifikasi standar internasional.

Jadi, di mana setannya bersembunyi? Tampaknya ia bersembunyi di dalam pemerintahan. Pemerintahan yang tidak mengerti “harga” dari sebuah profesionalitas seseorang, tidak mengerti apa yang namanya investasi yang sesungguhnya, dan cenderung mengambil jalan pintas. Hasilnya? Perombakan kabinet yang asal-asalan!! Kekurangan ahli, mengisinya dengan yang tak pasti.

Jika saja dan hanya jika, para ahli kita dijamin oleh pemerintah, kreasi mereka pasti akan sangat memukau di negeri ini. Memang, para ahli pun bisa jatuh, tapi kalau mereka dipelihara dengan baik, kejatuhan itu tentu tidak berdampak buruk bagi performa mereka dan lainnya, atau bahkan generasi berikutnya yang mewarisi gen-gen yang ambisius dalam nilai-nilai profesionalisme.

Pertanyaannya sekarang, maukah pemerintah melakukannya? Berinvestasi terhadap kunci emas ini? Saya sendiri secara subjektif pesimis. Gimana nggak, guru-guru aja banyak yang gak diperhatikan, sekolah aja banyak yang kurang layak. Gimana bibit mereka (para ahli) bisa berkembang? So pasti mereka “lari” ke luar negeri dan bahkan memiliki keluarga di sana.

Tapi gak adil rasanya kalau hanya membicarakan keburukan setan. Sekarang, di mana para malaikatnya? Ironisnya, mereka adalah para invisible hero yang banyak bertebaran di negeri ini. Mereka adalah para ilmuwan, kreator, insinyur, seniman, serta bidang profesi lainnya yang tetap berkarya di negeri ini dan memiliki ambisi yang besar untuk membangun negeri ini menjadi lebih baik namun terbentur dengan REGULASI PEMERINTAH yang disusun oleh YANG BUKAN AHLINYA.

 

Now we back to the politics session… No, skip this again, I’m better listening them below…

Muse

Ketua DPR periode 2009-2011, Marzuki Alie, berpendapat bahwa KPK layak dibubarkan. Beliau mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi orang di Indonesia yang kredibel, layak menjadi pemimpin, sesuai visi dan misi lembaga Ad-Hoc, KPK.

Hmm, memang sih pernyataannya rada bener. Para pemburu koruptor di Indonesia ini memang belum memiliki gigi taring yang tajam. Sedangkan ketika ada 1 gigi yang tajam, langsung para koruptor menjadi dokter gigi dadakan untuk mencabut gigi taring KPK yang dinilai terlalu berbahaya bagi orang lain nanti.

Bubar atau tidak, tetep aja yang namanya duit itu enak ^^

Bagi para nasabah bank BCA, tentunya sudah tidak asing lagi dengan nama FLAZZ
BCA. Ya, “dompet elektronik” yang merupakan terobosan terbaru dari pihak BCA tahun 2009 lalu. Tujuan sederhana diadakannya produk ini adalah untuk memudahkan transaksi yang sifatnya daily dan tidak terlalu besar jumlahnya. Misalnya membayar parkir dan beberapa public service lainnya yang sudah bekerja sama dengan BCA dalam mengadakan merchant2 Flazz ini. Sedangkan untuk tujuan jangka panjangnya, menurut saya, yaitu mengubah mindset kita sebagai masyarakat dalam bertransaksi. Dunia cashless sudah mulai populer di luar Indonesia dan BCA tampaknya hendak membawa euforia itu. Saratnya? Simpel, semua masyarakat Indonesia harus sebagai nasabah bank. Dengan begitu, komunitas cashless akan segera terwujud.

Okay, itu sajian pembuka dari saya. Sesuai topik tulisan kali ini, saya akan coba mengulas produk teranyar Flazz BCA ini. Namun, sebelum masuk ke inti permasalahan, saya buka terlebih dahulu kulitnya.

Bunga
Apa sih tujuan utama para nasabah hendak menyimpan hartanya kepada bank? Selain alasan keamanan, tentunya ada alasan lain dan biasanya alasan ini menjadi biang keladi si A ogah-ogahan menjadi nasabah Bank X. Alasan itu adalah bunga. Bukan bunga mawar, melainkan bunga tahapan. Ya, bank akan memberikan bunga (keuntungan sekian persen dari tabungan) kepada nasabah yang bersangkutan. Misalnya suku bunga bank X sebesar 6% per tahun dan si nasabah melakukan penyimpanan ke bank X sebesar 1 juta, maka dalam 3 bulan ke depan jumlahnya menjadi :

Bulan 0 : Rp. 1.000.000
Bulan 1 : Rp. 1.005.000
Bulan 2 : Rp. 1.010.025
Bulan 3 : Rp. 1.015.075

Artinya, pada setiap bulan berikutnya, maka jumlah saldo si nasabah akan mendapatkan tambahan sebesar (6% / 12 bulan) = 0.005 dari saldo nya. Jadi, 0.005 dari 1 juta adalah 5 ribu, sehingga untuk bulan pertama saldonya menjadi 1 juta + 5000 rupiah = 1 juta 5 ribu rupiah. Untuk perhitungan bulan berikutnya, saldo yang digunakan bukanlah 1 juta lagi, melainkan saldo terakhir. Mengerti? Kalau belum, silahkan baca ulang :D

Prinsip Kerja FLAZZ
Berhubung saya adalah penulis yang malas, maka silahkan lihat-lihat dulu ke sini untuk informasi resmi dari BCA mengenai cara kerja Flazz nya. Di sana tertuliskan 4 kata lebay yaitu Cepat, Praktis, Mudah, dan Murah. Untuk poin 1, 2, dan 3 saya setuju. Namun, masalah timbul pada poin 4. Yaitu murah. Penjelasan dari mereka adalah penggunaan Flazz ini murah karena tidak ada beban / biaya administrasi, tidak seperti hal nya penggunaan kartu kredit maupun debit BCA. Selain itu, begitu proses top-up berhasil, maka kartu Flazz anda akan terisi sesuai nominal yang anda mau sedangkan saldo pada bank Anda otomatis romantis akan berkurang sesuai nominal yang anda isi untuk kartu Flazz. Jadi sudah benar-benar seperti dompet yang diisi dari uang jajan hasil kerja keras orang tua. Anggap saja para ortu adalah Bank sedangkan Anda adalah nasabah yang melakukan top-up pada dompet Anda. Dompet Anda terisi, saldo ortu juga berkurang. Got it? Baca lagi kalau belum ngerti . . . :D

OK. 2 poin di atas sudah cukup untuk membawa kita ke inti permasalahan topik ini. Untuk mempermudah pemahaman, saya buat skenario yang simpel. Anggap kita punya saldo sebesar 5 juta di Bank BCA. Suku bunga yang berlaku saat ini sebesar 2% per tahun (sumber ada di sini). Nah, untuk 3 bulan ke depan, saldo kita akan menjadi sekitar Rp. 5.025.543, 374565. (belum dipotong biaya administrasi per bulan sesuai jenis kartu debitnya).

Lantas, pada bulan ke 4, kita melakukan top-up ke Flazz kita sebesar 500 ribu. Berarti saldo kita akan berkurang menjadi 4, 5 juta – dengan hitungan kasar tanpa bunga (biasa, malas ngitung :P ). Okay, sekarang kita punya 4,5 juta di tangan kanan dan 500 ribu di tangan kiri. Totalnya sama aja kan 5 juta? Setuju? Yang gak setuju silahkan tutup browser !!

Sebelum saya paparkan resume nya, bagi anda yang tergolong orang kaya yang tidak memikirkan bunga tahapan dan hanya memikirkan gengsi dan kualitas, silahkan tutup browser. Tulisan berikut adalah tulisan untuk masyarakat kecil yang mengharapkan penambahan bunga tahapan pada bank, seperti saya :D

Back to the scenario, walaupun kita punya total uang Rp 5 juta, tetapi yang dihitung untuk penambahan bunga hanyalah sebesar Rp 4,5 juta saja. Kenapa? Soalnya yang terdaftar di saldo sudah merupakan hasil pengurangan terhadap proses top-up yang baru kita lakukan. Rp 500 ribu pada Flazz adalah uang offline. Artinya ia tidak terdapat pada server bank melainkan sudah embedded pada chip Flazz kartu anda. Ruginya di mana? Rugi nya yaitu jika 500 ribu pada Flazz itu sama sekali gak pernah di pakai atau gak habis dalam waktu 1 bulan. Misalnya tersisa 200 ribu lagi pada akhir bulan, nah 200 ribu ini tidak masuk ke perhitungan bunga bulanan. Sayang banget bukan?

Okay, sekian analisa penggunaan kartu Flazz BCA beserta implikasinya kepada saldo normal yang dikaitkan dengan bunga tahapan dari saya. See ya next time ^^

Muncul pro dan kontra ketika Presiden Indonesia terpilih, Bapak SBY, memandatkan kepada Presiden partai PKS – Tifatul Sembiring, untuk menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi. Bagi yang pro, mereka kemungkinan memandangnya dengan cara ‘berikan ia kesempatan, saya percaya bahwa setiap orang layak diberi kesempatan’. Ada juga yang kontra dengan cara memandang yang berbeda. Dominan mereka melihatnya melalui track record Tifatul yang masih minim pengalaman di bidang IT – walaupun beliau jebolan kampus berbasis IT di Indonesia. Dan bagi mereka yang kontra, mereka gencar menyebutkan nama seperti pegiat IT Indonesia sekaliber bapak Onno W. Purbo yang sepantasnya menjabat posisi itu.

Lantas, kenapa pak SBY ‘ogah’ milih Onno W. Purbo? Apa beliau tidak mengetahui kebesaran nama pak Onno ini di bidang IT Indonesia (yang kalau boleh gw sebut, lebih merakyat karena beliau pro Open Source) ? Gw gak tau. Tapi klo sedikit digelitik, mungkin pak SBY udah terlanjur goyah pendiriannya lantaran belakangan ini PKS merasa tidak dihargai seusai kemenangan PD. Sebagai informasi, PKS lah yang lebih dahulu merapat untuk berkoalisi dengan PD. Namun, belakangan muncul wacana bahwa mereka tidak diperhitungkan ketika SBY menyusun KIB Jilid 2. Dan untuk mengatasi rumor yang berkembang seperti itu, pak SBY langsung memberi mandat kepada orang nomor 1 dari partai PKS itu. Jadi, gw gak tau. Entah ini karena alasan politis atau karena apa. Yang jelas gw sangsi dengan keputusan ini.

Lantas, kenapa gw katakan ia layaknya Sniper? Berdasarkan informasi dari detik, gw langsung kagum dengan pernyataannya ketika resmi menduduki posisi itu. Layaknya sniper, ia langsung membidik sasaran empuk di bidang alokasi dana ICT di daerah. “Pemda tidak boleh terima uang tunai”. Pernyataan yang tajam dan gw salut dengan langkah ini. Andaikata gw memiliki jabatan Pemda itu, pasti gw langsung berang mendengar pernyataan itu. Iyalah coi, gak ada lagi kesempatan untuk merauk keuntungan dari dana segar ICT untuk daerah itu.

Dana segar ini lebih cocok diberikan kepada lembaga atau kelompok yang profesional dalam hal ICT ini. Misalnya, untuk menghadirkan 500 komputer di satu desa, kalo gw sih, gw bentuk kelompok dari para pemilik warnet, tukang rakit PC dan jaringan, dan memberikan dana itu kepada mereka. Toh mereka yang lebih ngerti berapa harga satuan barang, lebih baik rakitan atau beli jadi, proses instalasi butuh waktu berapa lama, dan sebagainya. Mereka yang lebih mengerti secara teknis sehingga lebih efektif dan efisien. Lain halnya jika dana itu diberikan kepada Pemda.

For this movement, gw salut buat bung Tifatul ini. Langkah yang sebelumnya gak pernah terpikirkan oleh gw.

Ampun gw sama negara Indonesia ini pada umumnya dan suatu partai ternama dan besar pada khususnya. Ada yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa budak, bangsa yang memang layak untuk dijajah, ataupun bangsa yang masih trauma akan penjajahan 350 tahun oleh Kolonialisme Belanda sehingga menjadi bangsa yang penakut bin pengecut kaya’ kancut.

Seorang residivis, mantan penghuni penjara Nusa Kambangan, pernah menjabat posisi ‘terhormat’ di negeri ini sebagai koruptor, dan pernah main petak-umpet dengan polisi di Tanah Air ini dengan memerankan sebagai seorang aktor penting dalam sebuah laga untuk genre investigasi – buronan. Setelah orang biadab ini bebas, maka ia pun mencalonkan dirinya menjadi Ketua Umum sebuah partai besar di negeri ini, Partai Golkar. Ia merasa layak dan memenuhi syarat untuk maju menduduki kursi panas itu. Dan ketika ditanya apa yang ia janjikan bila terpilih nanti (otomatis akan menjadi kandidat calon Presiden pada ‘pertarungan’ 2014 nanti), maka ia pun berkata : “Saya akan memajukan negara ini. Memajukan bidang pertanian . . . (blablabla)”.

Sadarlah Indonesia. Bahwa kita sedang membusuk dari dalam. Mengapa saya mencela bangsa yang menjadi tempat kelahiran saya sendiri ini? Mau bagaimana lagi dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kita benar-benar bangsa penakut. Bangsa yang miskin dan norak akan uang. Bangsa yang dipenuhi oleh para penyair puisi sehingga bisa memaniskan setiap wacana yang negatif ke media massa. Lagi dan lagi, kenapa saya berani mengatakan ini? Tidak lain karena sejumlah kasus yang marak terjadi beberapa hari belakangan ini. Termasuk Bank Century, pelantikan DPR, dan sekarang – sesuai topik artikel ini, tentang majunya seseorang yang kaya raya untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar namun orang tersebut adalah mantan KORUPTOR !!!

Lihatlah media massa sekarang. Layaknya ingin mengejar popularitas rating (maaf TV One), dengan asik mereka menyorot muka orang bajingan tengik itu sehingga memenuhi layar televisi saya. Tapi terima kasih kepada TV One, berkat profesionalitas anda, saya jadi tau bahwa banyak juga ‘orang miskin’ di parlemen sana yang ikut tepuk tangan ketika orang itu (tersangka artikel ini) berpidato tentang visi misi nya untuk Indonesia. Ada juga ternyata yang mendukung seorang residivis untuk maju ke dalam pentas politik. Dan 1 hal kini telah terbukti, siapa pun orangnya, apapun latar belakangnya, sejelek apapun ia, asalkan ia kaya raya, maka akan selalu ada tempat untuknya. Yah, terbukti sudah anggapan-anggapan di atas. Kita bangsa murahan. Makan tuh GOLKAR !!! Boomerang buat lo kalo orang kaya dia lolos seleksi !!!

-Sekali tikus tetaplah tikus. Takkan pernah ia menjadi monyet-

alamakjang...ckckckckLagi dan lagi, Indonesia bikin sensasi. Setelah bapak SBY terpilih kembali menjadi Presiden Indonesia periode 2009-2014, dengan bacotan-bacotan kampanye nya, kini ia pun bungkam setelah duit negara digelontorkan begitu saja untuk Bank Century sebesar 6,7 Trilyun rupiah dan kurang lebih 50 Milyar rupiah untuk pelantikan DPR dalam periode yang sama (periode 2004 hanya memakan 6-7 Milyar). Ironisnya, Tasikmalaya baru terkena gempa dan banyak korban yang berjatuhan. Dan yang lebih parah lagi, informasi yang baru saya terima pagi ini dari Pro 2 FM (9 September 2009), ada 2 orang ibu yang terpaksa ‘disandera’ oleh pihak Rumah Sakit karena tidak mampu untuk membayar biaya yang dibutuhkan untuk persalinan.

OMG !! Kenapa sih si anggota DPR itu gak patungan aja untuk menutupi biaya rumah sakit yang diperlukan ibu-ibu itu? Biaya yang dibutuhkan paling-paling sebesar 20 juta rupiah, sementara biaya pelantikan mereka bagaikan langit dan bumi. Begitu juga dengan 6,7 Trilyun yang dialokasikan untuk Bank Century. Mendingan duitnya dikasi buat nambahin belanja negara dalam hal pertahanan negara. Misalnya memperbaiki pesawat tempur yang rusak, mengganti yang sudah tidak layak terbang, atau me-remajakan rel kereta api sehingga meminimalkan tingkat kecelakaan, dan lain-lain yang lebih bermanfaat.

Semoga BPK dan KPK siap tempur dan diberikan kuasa oleh Allah SWT untuk menghadapi DPR, Gubernur Bank BI, Menteri Keuangan, dan pihak terkait lainnya yang bersembunyi di ketiak SBY.

NB: maaf, lagi puasa. Jadi gak pake kata-kata yang pedas.

Oon banget dah emang pemimpin-pemimpin di atas kursi dan di bawah cicak sono. Kali ini gw mau kritik mampus MUI – Majelis Ulama Indonesia yang entah organisasinya sekarang maen petak umpet ato gimana. Heran gw kok bisa sih iklan JODOH premium via sms dibawakan oleh pria Islam? Kalo gak salah tuh cwo bacot2 kyk gini: “ungkap jodoh anda melalui saya ketik reg blablabla”. Moga2 MUI menindak tegas iklan ini ke instansi terkait. Walopun embel2 di bawahnya yang ditulis kecil banget kayak upil “ini adalah layanan hiburan”, tapi tetep aje konten nya menyesatkan. Celaka neh klo diliat ama anak2 ABG yang lagi doyan jatoh cinta tapi keluarganya gak punya benteng yg kuat ttg keimanan beragama.

Dan bagi orang yang menjadi pemerannya, sori bro, entah lo gak punya cara laen buat nyari duit ato emang pgn nyari sensasi, moga2 lo tobat sebelum kepentok tiang listrik !!!

-r3in-

Dari koran Republika di bagian Koran Pemilu disebutkan bahwa Muhammadiyah mendukung JK dalam PilPres 2009 8 Juli nanti. Pada bagian bawah artikel disebutkan bahwa Muhammadiyah tidak pernah pro terhadap salah satu kandidat dan bersikap netral, namun hanya JK yang masuk kategori layak dari mereka. Dari 3 pasangan capres, hanya JK yang mendatangi Muhammadiyah.

Selain itu disebutkan pula bahwa JK diberi amanat untuk menegakkan agama Islam dan tegas terhadap segala bentuk penistaan dan penyesatan agama. Ini menjadi indikasi bahwa Muhammadiyah tidak puas dengan SBY di sisi isu agama (Ahmadiyah).

Dan seperti yang pernah saya singgung beberapa tahun lalu pada artikel ini, SBY kemungkinan akan kehilangan kredibilitasnya di mata Muhammadiyah. Din Syamsudin yang pada artikel tersebut saya cuatkan namanya yang ikut pro terhadap pemerintahan, kini akhirnya banting setir ke JK.

Hmmmm, makin panas neh… Gak sabar nunggu hasilnya. Jika JK bisa menang, salut saya. Namun jika SBY yang menang, ditengah maraknya dugaan2 ke-tidaknetralan KPU, yahh… cuma pasrah aja dah.

Pada bagian pertama, seakan-akan gw membungkus JK dengan bungkusan parcel lebaran. Kali ini gw bungkus dia dengan bungkusan nasi padang. Lagi dan lagi gw nemuin iklan mencret. Kali ini datang dari Capres dan sekaligus Wapres saat ini, Jusuf Kalla. Apa iklan mencret nya komandan? Begini pasukan, dia ngomong di iklan itu bakal menjanjikan dana bantuan sebesar 3 juta hingga 20 juta rupiah BAGI PENGANGGURAN dan LULUSAN DIDIK YANG TIDAK MAMPU UNTUK BEKERJA. Waw, 3 juta hingga 20 juta Jendral? Yup.

Tolong diingat, negara kita saat ini sedang giat-giatnya membayar hutang luar negeri bukan? Nah, menurut penciuman amatir gw (sebenernya sih dari Hardiboi – u’re the boi man… J), dari mana yak kira-kira JK mendapatkan dana untuk programnya itu? Apa jangan-jangan gali lubang tutup lubang? Entahlah… Again, berhati-hatilah.

Durasi Iklan
Nah, yang luput dari pandangan kita semua rata-rata yaitu durasi iklan. Perhatikan durasi iklan dan konten nya. Tahukah anda bahwa iklan itu sangat mahal harganya? Belum lagi konten yang ada di dalamnya di mana terdapat proses taking, editing, dan lainnya termasuk ngerjain si kameramen untuk ambil gambar berulang-ulang kalo gak sesuai dengan naskah si tim sukses…. Hahahha… Ingat, kita ini masih manusia. Masih ada rasa tamak di dalam diri kita. Mungkin kita merelakan uang 1000 rupiah yang terjatuh di jalan misalnya. Tapi jika uangnya 1000 kali lipat bagaimana? Hayooo……pada ketauan siapa yang mata nya jadi ijo sekarang… Wkwkwkkw. Maksudnya apa komandan? Begini pasukan, para tim sukses pasti mengeluarkan banyak uang. Nah, pasti ketika terpilih bukan tidak mungkin mereka berusaha untuk “balik modal” dulu. Ngerti gak, pasukan? Kalo ngerti gw angkat jadi kapten deh…

KPU Seakan Tidak Netral
Pertama yaitu ketika acara debat yang disiarkan oleh RCTI dan di-relay ke stasiun televisi lainnya termasuk TVRI dan TV One, semestinya KPU harus bersikap netral. Jangan ada satu pun iklan dari masing-masing capres. Biarkan selama jam tayang debat tersebut iklan-iklan yang ada bebas dari kampanye elektronik mereka. Sudah begitu, porsi nya itu loh… Mpe eneg gw liat iklan-iklan yang pura-pura miskin. Zzz… Masih mending pura-pura kaya deh, miskinnya lebih kecium. Hahahhahaa…

Yang kedua yaitu tragedi spanduk (sosialisasi) yang seakan-akan kita diarahkan untuk mencontreng SBY pada tanggal 8 Juli nanti. KPU sebenernya terdiri dari orang-orang pintar. Mustahil mereka gak ‘ngeh’ terhadap racun publik ini. Jika mereka memang gak ngeh, jujur aja. Masih banyak tenaga muda bangsa ini yang siap untuk mengganti posisi mereka. Wah, repot donk Jendral? Saya rasa tidak pasukan. Sewa aja orang-orang yang ngerti Photoshop. Pasti mereka langsung ngeh begitu posisi tanda centang ada di tengah2. Hahahhaa… (ketauan dah busuknya).

Yang ketiga yaitu DPT. Mantap dah yang satu ini. Belum apa-apa sampai hari ini sudah ditemukan jutaan pemilih fiktif !!! (dari kompas yang gw baca). So, bisa diambil kesimpulan (pasti orang LSI yang jago statistik juga setuju dengan gw) bahwa indikasi kecurangan pada PilPres 2009 nanti sangatlah kuat.

Okay, sampai sini dulu update-an dari gw menjelang detik-detik Pemilu 2009. Mari kita sukseskan Pemilu ini. Jangan mau jadi korban serangan fajar klo mereka gak mau ngasi mobil sebagai sogokannya. Bersihkan otak anda dari artikel-artikel saya sebelumnya. Ingat, ini adalah subjektif dari pemikiran saya. Jangan dijadikan landasan untuk mengganti pilihan anda nanti.

Iklan politik dengan harga jutaan rupiah telah lama kita lihat sejak diberlakukannya masa kampanye pemilu 2009. Ada yang mengusung tema kenyataan lapangan (Prabowo Subianto is the best, JK nangkring di posisi 2), ada yang mengusung tema Lanjutkan (Absolutely, SBY is number One), dan ada juga yang mengusung tema optimasi produk dalam negeri (Lagi, JK dan Prabowo are the winners). Well, mereka menyajikan iklan tersebut sesuai tujuan politik mereka. Tidak dapat kita salahkan.

Namun, harap perhatikan iklan yang berbau busuk dan sesat menipu rakyat. Harap perhatikan kata-kata yang digunakan. Jangan nyampe kita mencret ke dua kalinya gara-gara termakan iklan dan pemanis kata-kata (serius, kalo gw disuruh ngerangkai kata-kata atau narasi iklannya, gw lebih baik dari si narator saat ini). Tanpa bermaksud menjelekkan nama baik seseorang atau sekelompok orang (atut ah ama UU ITE yang masih cacat :P ), simak penelusuran gw berikut ini:

N.B: awas terpancing dengan kata-kata gw. Apa yang gw tulis di sini adalah subjektif. So, jangan dijadikan landasan untuk banting setir (apa siiih?).

…Mengabdi Tidak Untuk Memperkaya Diri…
Awas, kata-kata ini mengandung tingkat kadar gula yang cukup tinggi. Perhatikan rumah Cikeas. Berapa duit yak itu??

…Datang dari kalangan rakyat seperti kebanyakan kita…
Nah, perhatikan kata-kata datang dari kalangan rakyat dan kita. Ketika si narator mengatakan kata-kata gula ini, perhatikan gambar yang disajikan. Apa tuh? Rumah pendopo? Hmmm, kira-kira rakyat tipe apa yak yang rumahnya berbentuk pendopo? Grrrr… (si singa siap menerkam)

…BBM diturunkan 3 kali…
Astaga… Pembodohan publik besar-besaran ini namanya. Hello pak Presiden ku sayang (lebai dikit ah biar gak dijerat UU ITE), itu harga BBM turun kan karena memang harga minyak dunia mengalami penurunan. Emangnya ente yang ngatur harga minyak dunia? Kalo iya, gw tepuk tangan. Nah, ini kan ente cuma kena imbasnya aja. Kemana angin berhembus kesitulah pucuk daun mengarah (bener gak sih ini pribahasa??). Jadi, jangan dijadikan power untuk memperkuat image anda di depan rakyat. Ciiiih… Semoga anggaran APBN untuk pendidikan yang gosipnya 20% itu akan mampu membuat anda terpeleset sendiri lantaran rakyatnya semakin pintar dalam mengolah statement politik. Saran gw buat kita semua, belajar lah kepada para pujangga karena mereka dapat menyingkap makna tersirat dari suatu pernyataan. Trust me!! Hahahaha

Posting ini akan terus di update begitu gw nemuin lagi iklan-iklan sampah seperti di atas hingga pemilu usai. Sementara itu, baca juga yang ini.

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.