Ampun gw sama negara Indonesia ini pada umumnya dan suatu partai ternama dan besar pada khususnya. Ada yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa budak, bangsa yang memang layak untuk dijajah, ataupun bangsa yang masih trauma akan penjajahan 350 tahun oleh Kolonialisme Belanda sehingga menjadi bangsa yang penakut bin pengecut kaya’ kancut.

Seorang residivis, mantan penghuni penjara Nusa Kambangan, pernah menjabat posisi ‘terhormat’ di negeri ini sebagai koruptor, dan pernah main petak-umpet dengan polisi di Tanah Air ini dengan memerankan sebagai seorang aktor penting dalam sebuah laga untuk genre investigasi – buronan. Setelah orang biadab ini bebas, maka ia pun mencalonkan dirinya menjadi Ketua Umum sebuah partai besar di negeri ini, Partai Golkar. Ia merasa layak dan memenuhi syarat untuk maju menduduki kursi panas itu. Dan ketika ditanya apa yang ia janjikan bila terpilih nanti (otomatis akan menjadi kandidat calon Presiden pada ‘pertarungan’ 2014 nanti), maka ia pun berkata : “Saya akan memajukan negara ini. Memajukan bidang pertanian . . . (blablabla)”.

Sadarlah Indonesia. Bahwa kita sedang membusuk dari dalam. Mengapa saya mencela bangsa yang menjadi tempat kelahiran saya sendiri ini? Mau bagaimana lagi dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kita benar-benar bangsa penakut. Bangsa yang miskin dan norak akan uang. Bangsa yang dipenuhi oleh para penyair puisi sehingga bisa memaniskan setiap wacana yang negatif ke media massa. Lagi dan lagi, kenapa saya berani mengatakan ini? Tidak lain karena sejumlah kasus yang marak terjadi beberapa hari belakangan ini. Termasuk Bank Century, pelantikan DPR, dan sekarang – sesuai topik artikel ini, tentang majunya seseorang yang kaya raya untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar namun orang tersebut adalah mantan KORUPTOR !!!

Lihatlah media massa sekarang. Layaknya ingin mengejar popularitas rating (maaf TV One), dengan asik mereka menyorot muka orang bajingan tengik itu sehingga memenuhi layar televisi saya. Tapi terima kasih kepada TV One, berkat profesionalitas anda, saya jadi tau bahwa banyak juga ‘orang miskin’ di parlemen sana yang ikut tepuk tangan ketika orang itu (tersangka artikel ini) berpidato tentang visi misi nya untuk Indonesia. Ada juga ternyata yang mendukung seorang residivis untuk maju ke dalam pentas politik. Dan 1 hal kini telah terbukti, siapa pun orangnya, apapun latar belakangnya, sejelek apapun ia, asalkan ia kaya raya, maka akan selalu ada tempat untuknya. Yah, terbukti sudah anggapan-anggapan di atas. Kita bangsa murahan. Makan tuh GOLKAR !!! Boomerang buat lo kalo orang kaya dia lolos seleksi !!!

-Sekali tikus tetaplah tikus. Takkan pernah ia menjadi monyet-